Selasa, 05 April 2011


Teh dan Penelitian Pada tahun 1962, Organisasi kesehatan Dunia ( WHO) di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melaporkan adanya peningkatan kasus kerusakan gigi, penyakit pada sistem pencernaan dan kropos pada tulang manusia yang disebabkan oleh kurang tersedianya sumber air bersih, serta akibat peningkatan konsumsi bahan pengawet dan gula. Berdasarkan laporan tersebut PBB melakukan program penambahan klorin dan flour pada air bersih.
Program tersebut telah membuahkan hasil di kota besar negara maju yang memiliki teknologi air bersih, namun belum menyentuh masyarakat yang hidup di kota-kota kecil negara berkembang. Teh memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan manusia akan klorin dan flour. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teh disamping sebagai bahan minuman, sifat antiseptik dapat menjaga kesehatan mulut dan gigi, tenggorokan, menjaga keseimbangan mikroflora sistem pencernaan dan meningkatkan penyerapan kalsium untuk pertumbuhan tulang.
Pada dekade 70-an dan 80-an, dunia diguncang oleh laporan adanya peningkatan drastis kasus penyakit jantung dan kanker, sebesar 3-5% per tahun. Berbagai negara mengalokasikan dana yang sangat besar untuk penelitian terhadap semua kasus tersebut. Baru pada awal dekade 90-an, peneliti menemukan bahwa teh merupakan minuman karsinogen yang sangat efektif untuk mengurangi risiko kejangkitan dan menghambat pertumbuhan kanker.
Dengan ditemukannya berbagai khasiat yang terkandung pada teh maka pada akhir dekade 90-an, PBB memberi bantuan kepada 30 negara penghasil teh untuk melakukan program promosi teh dalam rangka meningkatkan konsumsi teh dunia.
Di Indonesia program ini dilakukan di kota Surabaya, Propinsi Jawa Timur. Jenis polifenol pada teh yang telah teridentifikasi dan tingkat kandungan rata-rata adalah 1. Katekin, antara : 63 - 210 mg% 2. Flavanol, antara : 14 - 21 mg% 3. Tearubigin, antara : 0 - 28 mg% 4. Polifenol lainnya antara : 266 - 273 mg%.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung - Jawa Barat Indonesia menunjukkan bahwa kandungan polifenol pada teh Indonesia yang merupakan komponen aktif untuk kesehatan ± 1,34 kali lebih tinggi dibanding teh dari negara lain Katekin merupakan senyawa polifenol utama pada teh sebesar 90% dari total kandungan polifenol. Rata-rata kandungan katekin pada teh Indonesia berkisar antara 7,02 - 11,60% b.k., sedangkan pada negara lain berkisar antara 5,06 - 7,47 b.k.
Teh selain mengandung polifenol hingga 25-35%, juga mengandung komponen lain yang bermanfaat bagi kesehatan, antara lain : metilxantin, asam amino, peptides, karbonhidrat, vitamin (C,E dan K), karotenoid, mineral seperti kalium, magnesium, mangan, fluor, zinc, selenium, copper, iron, calcium, serta metilxantin dan alkaloid lain.
Kemampuan pencegahan dari polifenol teh a. Anti oksidan – Mencegah pembentukan radikal (bebas) oksigen dalam tubuh – Melindungi lemak dalam plasama darah – Melindungi kerusakan minyak dan lemak makan, dapat digunakan sebagai pewarna alami b. Anti radiasi c. Anti mutasi gen d. Anti tumor – Menekan pertumbuhan sel tumor – Menekan pemrosesan bentuk tumor – Menekan kanker payudara yang tumbuh spontan e. Menghambat aktivitas enzim : beberapa enzim yang terbukti dihambat adalah : – Enzim angiotensin I – Amilase, Sukrase dan maltase – Enzim glucosy I transferase pada mutan streptokokus – Enzim pemacu HIV – Enzim tyrosinase f. Anti peningkatan kolestrol g. Anti peningkatan tekanan darah h. Anti peningkatan kadar gula darah i. Anti koreng j. Anti bakteri – Bakteri patogen pada makanan – Bakteri fitopatogen tanaman – Bakteri kariogenik – Menetralkan racun bakteri k. Anti virus – Virus mosaik tanaman tembakau – Virus influensa – Virus papiloma pada manusia l. Deodoran (penghilang bau) – Trimethy amina – Methy mercaptan – Formaldehyade – Pembasmi hama golongan hewan lemah.(net)




1 komentar:

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!